Tentang Buku Pertama



Buku saya sudah terbit lima bulan lalu, dan tulisan ini tidak untuk mempromosikannya. Jika anda punya sedikit waktu untuk membaca, saya hanya ingin menceritakan tentang proses pembuatan buku tersebut. Dan juga kenapa kita perlu menulis buku ?.
Sebagaimana saya tulis dalam kata pengantar, buku pertama saya berjudul Para Pembisik Kedunguan bukanlah buku yang serius. Setidaknya dalam dua hal: tidak serius dalam pembahasannya dan juga tidak serius dalam penggarapannya.
Tema yang saya tulis hanyalah seputar persoalan sehari-hari. Tentang kota yang semakin tua dengan keculasan masyarakat yang justru kekanak-kanakan. Tentang relaksasi, kebahagiaan, dan tentu saja tentang jurnalistik yang dalam beberapa tahun terakhir sangat dekat dalam hidup saya.
Ketidakseriusan kedua adalah aneka macam tulisan dalam buku ini tidak dirancang untuk menjadi buku. Saya hanya menulis untuk diunggah di blog pribadi dan juga di media sosial semacam Facebook.
Saya baru aktif menulis esai pada Desember 2013 atau sekitar setahun setengah setelah saya menjadi wartawan. Esai pertama saya yang kemudian menjadi penutup tulisan dalam buku tersebut hanya bercerita tentang kegerogian saya saat pertama kali wawancara dengan narasumber.
Sebelumnya, saya menulis esai meski tidak terlalu sering. Pertama kali saya menulis saat kelas tiga Madrasah Aliyah (kalau ada yang belum tahu, ini setara dengan SMA hehehe...). Esai itu kemudian di muat dalam buletin pesantren. Saya lupa tulisan itu tentang apa, yang jelas kata-katanya sangat amburadul.
Setelah menulis esai lagi pada akhir 2013, saya lalu terus menulis hal-hal yang tak serius di waktu senggang. Saya sebut tulisan tak serius karena esai-esai saya sangat jauh dari teori, berbeda semisal dengan tulisan esais kenamaan Goenawan Mohamad. Dia harus membaca beberapa buku untuk menyelesaikan satu esai.
Goen-sapaan Goenawan Mohammad- pernah bercerita kalau dia rata-rata membutuhkan waktu lima jam untuk menulis esai di catatan pinggir Majalah Tempo. Meski menulis sampai lima jam, Goen hanya menghasilkan tulisan satu lembar yang bisa tuntas dibaca dalam sepuluh menit.     
Sedangkan esai saya jauh dari keseriusan itu. Saya hanya membahas tentang hal-hal ringan dengan sudut pandang wartawan. Mungkin inilah, saya menulisnya tidak ada beban. Toh, ketika awal menulis saya tidak bercita-cita mengumpulkan tulisan itu sebagai sebuah buku.
Ketika pertengahan 2015 lalu berniat membuat buku, tiba-tiba terbersit mengumpulkan tulisan saya yang terserak: di Facebook, Blog, Kompasiana, dan juga dibeberapa website yang dikelola sejumlah teman.
Setelah terkumpul, saya tidak berfikir panjang. Karena tulisan yang ada dalam buku ini jauh dari keseriusan, saya tidak pernah berfikiran untuk diterbitkan secara profesional. Saya memilih menerbitkannya secara indie yakni dengan modal produksi dari kocek pribadi. Dari modal inilah, lantas penerbit memproduksi: melakukan editing, lay out, membuat sampul, mencetak dan setelah itu memberi sejumlah buku kepada saya.
Nah, yang membuat saya sedikit bangga, meski diceta secara indie buku saya juga dijual di toko buku Toga Mas. Penerbit mengusahakan agar buku saya bisa majang di rak buku, yang katanya hal tersebut suatu kebanggan bagi penulis.
Beberapa hari setelah buku saya tersedia di Toga Mas Malang, saya mengunjungi untuk melihat buku saya apakah sudah laku atau tidak. Ternyata, dari lima belas eksemplar buku yang dijual, belum ada satupun yang laku. Ada satu buku yang terbuka sampul plastiknya. Mungkin orang itu membuka karena penasaran, lalu tidak jadi membeli entah karena apa.
Tapi saya menganggap hal tersebut bukan masalah. Saya yang juga memasarkan sendiri buku itu di media sosial ternyata lebih laku. Ada beberapa teman yang membeli meski tidak sedikit juga yang meminta gratisan hehehe....
Tanggapan pembaca juga lumayan positif. Bahkan, ada seorang teman yang tuntas membacanya hanya dalam dua hari. Seorang teman lain mengaku karena salah satu tulisan dalam buku itu, dia semakin bulat untuk memutuskan suatu hal dalam hidupnya. Apa itu ? karena off the record, saya tidak bisa menceritakannya.
Dari berbagai proses mulai dari menulis, memasarkan dan juga aneka macam tanggapan pembaca itulah, saya sadar kalau semuanya butuh proses. Dalam dunia kreatif, kita perlu terus menerus berkarya hingga kita menciptakan karya monumental. Mengutip AS Laksana, tugas seorang pembaca adalah mengekalkan ingatan terhadap apa yang mereka baca, dan tugas penulis adalah segera melupakan apa yang mereka tulis.
Singkatnya, penulis harus terus menerus menulis. Lalu, saya teringat pada kisah Sydney Sheldon, seorang penulis terkenal yang hendak bunuh diri. Dia hampir saja menenggak berpuluh-puluh pil tidur, sebelum akhirnya sang ayah menasehati agar menunda kematiannya. Sang ayah meminta Sydney terus membaca agar dia bisa terus menulis. Belakangan, kita mengenal Sydney sebagai penulis beberapa novel best-seller.
Penulis lain, Umberto Eco yang meninggal 19 Februari lalu baru menghasilkan karya monumentalnya  ketika umurnya sudah 48 tahun. Eco yang mempunyai koleksi 50 ribu buku itu terkenal dengan novelnya The Name of the Rose.
Masih banyak cerita dari penulis lain yang mereka melahirkan karya monumental ketika sudah berusia senja dan ketika keputusasaan hampir mengalahkannya. Salah satunya yang lain adalah Gabriel Garcia Marques yang mangkat beberapa bulan sebelum kematian Eco.
Peraih nobel sastra ini hampir putus asa sebelum novelnya Seratus Tahun Kesunyian menyelamatkan Marques dari keterpurukan. Nah, karena saya tidak bercita-cita meraih nobel sastra sebagaimana yang pernah diraih Marques, maka saya akan terus menulis entah itu dianggap bagus atau tidak oleh pembaca.
Lalu, pada awal tulisan saya melontarkan pertanyaan yakni kenapa kita perlu menulis buku. Kata AS Laksana, buku adalah branding diri sendiri yang paling ampuh di muka bumi. Kata dia, orang akan terlihat terpelajar dan pintar ketika sudah menulis buku. Karena inilah, semua orang dengan aneka macam profesi sebenarnya perlu menulis buku, setidaknya untuk tidak terlihat dungu hehehehe..
Setelah cukup panjang lebar menceritakan tentang buku pertama saya, ternyata saya lupa satu hal. Ketika awal menulis catatan ini, saya berniat mencantumkan tulisan lengkap seorang teman yang sudah dengan rela meresensi buku saya. Dia bahkan mengirim resensi tersebut pada sebuah koran nasional, meski akhirnya tulisan tersebut ditolak. Karena saya anggap tulisan ini sudah terlalu panjang, sebagai bentuk penghormatan, saya akan unggah resensi tersebut secara lengkap pada tulisan selanjutnya di blog ini. sekian.
  



































Komentar

Abdi Purmono mengatakan…
Lha aku malah belum pernah bikin buku. Bagusan dirimu daripada aku. :)
Irham Thariq mengatakan…
Hehehe... bukunya tak ambil dari kumpulan tulisan di blog bang. jadi bukan suatu yang wah sebenare, cuman seperti orang ngeliping tulisan yang dijadikan buku... hehehhe

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy