PMII dalam Sepuluh Menit

sumber foto: pojoknu.blogspot.com


Tentang pengalaman dan hal-hal menyenangkan selama aktif di PMII.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sudah memberi banyak hal kepada saya; sahabat yang baik, istri yang cantik, wawasan dan sedikit keterampilan menulis. Tapi, semuanya itu mungkin tidak pernah saya dapat ketika di awal kuliah saya ikut Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Beberapa bulan sebelum mendaftar PMII pada 2008 lalu, saya memang nyaris bergabung KAMMI. Ketika itu saya sudah mengambil formulir, ikut bedah film yang diadakan para ikhwan-akhwat dan sudah beberapa kali mendapatkan pesan singkat agar segera mendaftar.
Saya mengabil formulir KAMMI karena diawal-awal saya masuk kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, baru KAMMI yang membua stand pendaftaran. Sedangkan PMII, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan beberapa organisasi lain baru buka pendaftaran beberapa bulan setelahnya.
Di awal kuliah, saya memang berniat mengikuti organisasi. Awalnya, yang ingin saya ikuti adalah PMII karena seorang guru saya di pesantren yakni Athok Lukman Hakim merupakan mantan Ketua PMII Komisariat UIN Sunan Kalijogo, Jogjakarta. Dari beliau, saya pertama kali belajar menulis dan berkenalan dengan pemikir kiri semacam Gus Dur, Karl Marx dan Nurcholis Madjid.
Bersamaan saya masuk kuliah, ada dua santri lain yang berguru ke beliau dan ketika itu sama-sama mau masuk kuliah. Keduanya sama-sama masuk kuliah di UIN Jogjakarta. Suatu ketika seorang diantaranya mengirim pesan singkat kepada saya, dia bertanya saya jadi ikut organisasi apa.
Saya menjawab kemungkinan ikut KAMMI dan mungkin PMII yang sampai waktu itu belum membuka pendaftaran. Dia tertawa dan sedikit kaget ketika membalas kata KAMMI. Belakangan, setelah beberapa tahun kuliah saya tahu watak organisasi ini dan kenapa teman saya menertawai saya waktu itu.
Waktu terus berjalan dan formulir KAMMI yang saya ambil tidak kunjung saya kembalikan. Hingga pada suatu forum di Orientasi Mahasiswa saya terkagum-kagum dengan orasi dan banyolan Abdullah Sam. Seingat saya, dedengkot PMII yang sekarang menjadi kiai ini mengisi materi tentang gerakan mahasiswa.
Dalam orasinya, dia bilang kalau rumahnya di Sumberpucung, Kabupaten Malang. Oh, tempat ini dekat sekali dengan rumah saya di Kalipare. Hanya dua puluh menit memakai sepeda motor. Setelah selesai forum, saya menemui Luthink, moderator acara tersebut. Luthink lalu memberi tahu kalau rumah Abdullah Sam berada di selatan Stasiun Sumberpucung.
Beberapa hari setelah itu saya mengunjungi rumahnya yang ketika itu beliau masih ngontrak di rumah dua lantai. Saya sudah tidak ingat apa yang kita obrolkan waktu itu. Dia hanya sedikit menyebut nama PMII. Mungkin, dia ingin saya ikut PMII,  makanya hanya organisasi yang dia sebut dalam obrolan. hehehe….


****

Suatu sore di tahun 2008.  Beberapa hari setelah Orientasi Mahasiswa Fakultas Psikologi di Coban Rondo, Kabupaten Malang saya main-main ke base camp PMII Rayon Al Adwiyah. Rayon ini merupakan  rayon PMII yang ada di Fakultas Psikologi UIN Malang.
Saya dengan beberapa senior waktu itu main PlayStation di sebuah rumah yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Rayon Al Adawiyah. Ditengah-tengah permainan sebuah insiden terjadi. ‘Plak’ seorang senior memukul badan saya (sudah lupa bagian mana yang dipukul). Setelah itu ada sedikit cek-cok, lalu kita kembali bermain playstation lagi.
Saya masih ingat senior yang memukul itu. Dia waktu itu memukul karena mengangap saya adalah Mahasiswa Baru (MABA) yang menyebalkan.... hehehehe... mungkin saya dulu dan sampai sekarang menyebalkan ya.
Insiden tersebut sudah kami lupakan. Beberapa tahun setelah kejadian, insiden itu sempat kami bahas di Rayon dan hanya bahan tertawaan kita. Belakangan, si pemukul menjadi sahabat baik saya, atau mungkin sahabat paling baik bagi saya selama di PMII. Salah satu buktinya, kita sering pinjam-pinjaman uang tanpa rasa malu sedikitpun... hehehehe.
Tidak lama setelah insiden itu saya akhirnya ikut PMII dengan Massa Penerimaan Mahasiswa Baru (MAPABA) yang dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan. Mapaba adalah pendidikan kader formal yang harus diikuti oleh calon kader PMII.
Setelah MAPABA, saya cukup sering berkunjung ke Rayon Adawiyah. Entah hanya untuk makan warung Mak Mis yang berdampingan dengan Adawiyah, numpang tidur, hingga untuk berdiskusi.
Soal diskusi, saya mempunyai hutang budi kepada senior bernama Lutfillah. Kepada beliaulah saya belajar mengenal filsafat, belajar berfikir logis, dan mulai mencintai buku. Sebelum sering berdiskusi, mula-mula beliau menyuruh saya meminjam buku filsafat di Perpustakaan UIN Malang.
Buku itu ditulis oleh Bertrand Russel yang saking tebalnya buku ini bisa dibuat bantal tidur. Karena buku ini saya mulai mengenal lebih dalam para filsuf seperti Aristoteles, Rene Descartes, Karl Marx, Michel Foucault hingga Filsuf Postmodern Jacques Derrida.
Bagi saya, pengalaman aktif di PMII mengasyikan bukan hanya karena diskusinya yang tidak pernah kita temui di kelas kuliah
Tapi juga karena budayanya yang menyenangkan. Salah satunya ketika semester tiga sampai semester empat saya tinggal di Rayon. Ketika itu saya tinggal dengan kakak kelas. Mungkin karena inilah saya dianggap lebih dekat dengan kakak kelas daripada teman seangkatan di PMII. Ini mungkin salah satu kesalahan saya selama aktif di PMII. Hehehhe..
Dengan para senior di rayon itu, kita sering terpaksa mandi di kamar mandi kampus ketika air rayon habis. Saya juga bingung kenapa air rayon ketika itu cepat sekali habis. Bahkan, daripada berlimpah air, rayon ketika itu sering tidak ada airnya.
Waktu itu saya tinggal dengan Sony Eko Setiono, Iqbal Hawabi yang merupakan ketua rayon, Abdul Halim, dan juga Fuad Taufik. Nama terakhir ini tidak berhasil lulus di UIN Malang Malang tapi sukses menjadi pengusaha. Dia beruntung karena selain lihai berbisnis, juga karena mempunyai mertua yang kaya raya.
Diawal-awal semester tiga, saya sudah ikut Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang merupakan pendidikan terakhir di PMII. Saya sangat belia ketika itu, biasanya yang ikut PKL adalah kader PMII yang sudah semester tujuh ke atas.
Saya ikut PMII setelah ‘disusupkan’ oleh Lutfillah yang waktu itu Pengurus Cabang PMII Kota Malang. Lima hari digembleng dengan materi yang berat-berat, setelah ikut PKL saya sakit dan harus meringkuk di rayon.
Di PKL inilah saya mengenal Fairouz Huda Anggasuto yang merupakan Ketua Umum (Ketum) Cabang PMII Kota Malang waktu itu. Dia adalah ketua umum yang egaliter, pidatonya sebelas dua belas dengan Bung Barno, pandai demo, dan tentu saja mempunyai jaringan yang luas. Fairouz saat  ini menjadi staf Dewan Pembina Presiden yakni KH Hazyim Muzadi.
Suatu ketika, seorang teman dari Jogjakarta datang ke Malang untuk meneliti PMII. Fairouz yang saya hubungi melalui pesan singkat ketika itu tanpa jual mahal rela menemui si peneliti ke rayon. Ketika diundang diskusi, dia selalu hadir atau mungkin menyempatkan diri untuk hadir.
Sejumlah cerita yang saya tulis ini hanyalah secuil kisah selama aktif di PMII. Banyak hal yang belum saya ceritakan, termasuk ketika saya dua kali gagal mencalonkan diri sebagai Ketua di PMII yakni Ketua Rayon dan Ketua Komisariat. Semoga suatu saat bisa saya ceritakan tentang pengalaman ini.
Ada lagi kisah yang belum saya ceritakan yakni tentang pertemuan saya dengan istri saya Sakinatun Najwa, seorang sahabati yang saya kenal ketika Adawiyah mengadakan Kemah Kader Rayon (KKR) di Batu. Cerita lebih detail biar kita berdua saja yang tahu… hehhehe…
Lalu, apa hubungannya dengan sepuluh menit sebagaimana saya tulis pada judul. Ya, karena anda membaca tulisan ini hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Jika Anda membaca lebih dari sepuluh menit, mungkin Anda terlalu lambat dalam membaca. Jika kurang dari sepuluh menit, Anda sangat cepat dalam membaca. Demikian catatan singkat ini. Saya sadar kalau pengalaman lima tahun di PMII tak mungkin bisa terwakili dengan catatan yang bisa selesai dibaca hanya dalam sepuluh menit. Sekian.




*Tulisan untuk merayakan Hari Lahir PMII ke-56 yang jatuh 17 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy