Ketika Lidah Pulang Kampung

sumber foto: www.masakenaksehari.blogspot.com
Saya yakin momen lebaran adalah waktu paling tepat untuk berwisata kuliner. Kita bisa mendapatkan apa saja yang kita suka dengan begitu mudahnya dan juga dengan begitu murahnya. Atau kalau anda sedang beruntung, Anda bisa makan makanan kesukaan dengan gratis. 
Itulah yang baru saja kita laksanakan. Perayaan kuliner saat lebaran tidak kalah hebohnya dengan hal lain seperti menyambangi keluarga, pergi ke kuburan dan adu keras suara petasan. Dan wisata kuliner menurut saya merupakan salah satu paling penting yang harus ada setiap lebaran tiba. 
Dengan adanya perayaan kuliner, kita seolah sedang bercakap-cakap dengan masa lalu kita. Kau tahu, lidah sebagaimana pikiran, juga mempunyai ‘kenangan’ yang kerinduannya harus dibayar tuntas. Saya sebut kenangan karena lidah kita sejak kecil selalu makan masakan orang tua. Disitulah, kenangan terhadap cita rasa masakan orang tua membekas di setiap lidah anak manusia, terlebih bagi perantau.
Dan dengan adanya momen mudik, kerinduan terhadap masakan orang tua bisa kita lakukan. Dengan memakan opor ayam saat lebaran, lidah kita seolah bernostalgia dengan apa yang pernah kita makan saat kanak-kanak.
Menurut saya, itulah sejatinya wisata kuliner dalam artian yang luas. Wisata kuliner bukanlah ketika kita datang ke warung, memasan makanan, lalu menyantap makanan dengan lahapnya. Terlalu sempit dan terlalu mudah jika itu arti dari wisata kuliner. 
Tapi ketika lebaran, kenangan terhadap masakan orang tua seolah membawa kita pada masa lalu. Mulai dari ketika masih anak-anak yang memakan opor ayam sambil bermain petasan, atau momen di mana kita masih menyempatkan memakan opor ayam sebelum berangkat ke masjid pagi-pagi untuk salat idul fitri. 
Dan kenangan itulah yang hendak kita rawat saat lebaran. Bagaimanapun, lidah setiap manusia mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Termasuk, kenapa banyak di antara kita lebih banyak menyukai masakan orang tua dibanding masakan orang lain. 
Hal ini sama dengan cerita klasik orang jawa lebih suka makan-makanan manis, orang Madura lebih suka makan-makanan asin, dan orang padang yang memfavoritkan makanan bersantan. Semua itu menurut saya bukanlah kebetulan, ada budaya dan sejarah.
Soal wisata kuliner ketika lebaran, saya mungkin termasuk orang yang beruntung. Ini karena saya selalu merayakan lebaran di kampung halaman dan selalu tiba di rumah beberapa hari sebelum hari raya.
Tapi, untuk lebaran kali ini karena suatu alasan, saya baru bisa pulang kampung satu hari setelah lebaran. Di situlah, saya merasakan kalau kuliner saat lebaran jauh lebih penting dari apapun. Saat malam lebaran, yang saya ingat hanyalah opor ayam masakan orang tua. 
Pada malam lebaran saya menelpon orang tua, tentu saja untuk minta maaf. Setelah meminta maaf, ibu saya langsung makan apa saat buka puasa, saya hanya menjawab banyak makanan yang saya makan ketika itu. Lalu telepon saya kasihkan kepada istri, di situlah suara orang tua saya tercekat serta seolah mau meneteskan air mata setelah bertanya kepada istri memasak apa hari itu. 
Semenjak itulah, saya berkesimpulan kalau kebahagiaan bagi mereka yang mempunyai orang tua yang baik hati, dan yang kedua mempunyai orang tua yang pandai memasak opor ayam. 
Cerita tentang kuliner yang perannya sangat penting ini sebenarnya sudah lama terjadi. Pada sekitar tahun 1930 misalnya, tentara Belanda dikecoh oleh Keraton Jogjakarta dengan kuliner. Ceritanya, Raja Yogyakarta Hamengku Buwono VIII berencana melakukan suksesi kepada putranya Pangeran Darojatun. Sang raja ketika itu mulai sakit-sakitan.
Namun, kekuasaan pemerintah kolonial yang masih kuat membuat Hamengku Buwono VIII khawatir anaknya akan diganggu dan dipengaruhi penjajah. Nah, untuk pengalihkan perhatian Belanda, Sang Raja memanjakan orang Belanda dengan aneka makanan enak serta hiburan seperti tari-tarian. Makanan yang disajikan ketika itu adalah makanan sesuai lidah mereka yakni makanan khas Eropa yakni Mentega, Keju, dan Susu. Makanan itu diolah dengan paduan resep Jawa. Karena inilah, Belanda pada akhirnya tidak memperhatikan apa yang terjadi di Keraton.
Siasat ini berhasil, orang Belanda tidak memperhatikan kalau Hamengku Buwono sedang sakit keras. Pada tahun 1939, raja kedelapan Yogyakarta itu mangkat dan Pangeran Darojatun-pun naik takhta dengan lancar.
Mungkin kuliner zaman sekarang sulit menemukan cerita heroik semacam ini. Tapi bagaimanapun, kuliner kampung halaman selalu nikmat dirasa. Mungkin ini jugalah yang dirasakan seorang teman asal Jember. Dua hari setelah lebaran, dia harus kembali ke Jakarta karena jatah cuti sudah habis. Lalu dia berkeluh kesah di media sosial. ”Sudah tidak bisa merasakan rujak cingur lagi,” kata dia ketika sudah tiba di bandara Juanda. 
Bagi dia, libur lebaran yang singkat dan harus merogoh kocek dalam-dalam tidak hanya untuk bertemu keluarga di kampung, lebih jauh dari itu melainkan adalah bernostalgia dengan rujak cingur atau mungkin dengan kicauan burung kesukaannya. Baginya, lebaran tidak hanya jasadnya yang pulang kampung, melainkan juga lidah yang mudik.  Nah, saat ini sudahkah anda makan opor ayam atau rujak cingur...?.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy