Muhammad Ali, Piala Eropa dan Hal-Hal Memilukan

sumber foto: www.notable-quotes.com

Olahraga saya kira menarik bukan hanya karena pertunjukan di arena. Olahraga kadang begitu memikat karena cerita-cerita di luar lapangan. Kisah tentang kepiluan seseorang, kelak bisa menjadi cerita luar biasa ketika orang tersebut menjadi bintang.
Saya kira Muhammad Ali tersohor bukan hanya karena dia juara dunia tinju tiga kali. Tapi juga kronik dalam hidupanya. Suatu hari, Ali kecil yang miskin kehilangan sepeda. Lalu dia ingin menghajar maling. Oleh seorang pelatih tinju dia diminta untuk menjadi petinju sebelum menghajar si maling.
Belakangan, kita mengenalnya bukan hanya sebagai petinju kelas dunia, tapi juga pejuang kemanusiaan. Dia menolak wajib militer, mengecam calon presiden Donald Trump yang akan melarang umat Islam masuk Amerika Serikat, dan memperjuangkan kesetaraan kulit hitam dan putih.
Ali mungkin hanya sebagian kisah dari olahragawan yang mempunyai kisah menarik di luar arena. Di Sepak Bola, di tengah-tengah keriuhan Euro yang sedang berlangsung, kita mendapati sejumlah pemain yang sebenarnya bukan asli Eropa. Atau ekstrem-nya bukan bangsa kulit putih yang identik dengan Eropa.
Banyak tim yang memainkan para keturunan imigran. Mari kita lihat skuad Prancis yang menjadi tuan rumah. Ada 13 pemain yang merupakan pemain keturunan alias nenek moyang mereka bukan dari dataran Prancis. Diantaranya Steve Mandanda dari Kango, Patrice Evra dan Mamadou Sakho dari Senegal, Blaise Matuidi dari Angola, Samuel Ummiti dari  Kamerun, dan Adil Rai dari Maroko.
Di tim nasional Inggris ada Delle Alli dari Nigeria dan Daniel Sturridge dari Jamaika. Sedangkan di Jerman ada Sami Khidira dari Tunisia, Lukas Padolski dari Polandia, Leroy Sane dari Senegal dan Masut Oezil dari Turki.
Umumnya para imigran ini ketika kecil hidup dari keluarga miskin. Mereka menggantungkan impian mereka pada sepak bola, hingga akhirnya bisa tampil membela tim nasional di Piala Eropa.
Salah satu pemain hebat yang berasal dari Imigran miskin adalah Mesut Oezil. Pemain yang beberapa waktu lalu dielu-elukan oleh sebagian umat Islam karena berfoto saat umrah di Mekkah ini bukanlah lahir dari akademi mentereng. Oezil kecil  berlatih di lapangan Olgastrasse, Jerman.
Lapangan ini bukanlah lapangan mewah dengan rumput sintetis. Bahkan, orang sekitar menamainya sebagai Kandang Monyet. Apa pasal ?. ternyata karena lapangan ini terdapat pagar setinggi tiga meter. Persis kandang monyet. Lapangan ini juga tidak berumput. Hanya bersemen.
Dari ‘kandang monyet’ inilah kemampuan Oezil sebagai pemain bola ditempa. Ralf Maraun, pelatihnya ketika kecil mengatakan kalau Oezil adalah anak istimewa meski hanya berlatih di lapangan sederhana.”Larinya kencang, dia memburu seperti elang, dan tenaganya luar biasa. Anak kecil itu mampu menembakkan bola sejauh 25 meter!. Di Lapangan Oezil sangat percaya diri.” Kata Ralf sebagaimana dikutip Majalah Tempo.
Lalu, kini Oezil membuat bangga para imigran, penduduk miskin, atau mungkin umat Islam. Dalam setiap tokoh menurut saya selalu mengandung matafora. Ketika Oezil menggojek sikulit bundar, dia bisa saja sedang membawa nama imigran yang masih hidup miskin.
Lantas imigran yang menyaksikan dari layar kaca bisa bermimpi agar anak-anak mereka bisa sukses seperti Oezil. Atau bagi umat islam yang fanatik, bisa saja Oezil dielu-elukan ketika bermain gemilang. Mungkin ini jugalah yang membuat sebagian umat Islam kegirangan ketika Oezil berfoto di Mekkah. Disitulah tokoh, selalu menimbulkan hal-hal metafora ketika dilihat orang yang megagumi.
Metafora ini jugalah yang mungkin melekat pada pemain sepak bola yang sudah sukses. Penduduk miskin dari Brazil mungkin ketika melihat Ronaldo memberdaya lawan-lawan mereka dengan goyangan zamba, bisa langsung teringat Ronaldo yang hidup dari kampung miskin.
Begitu juga dengan Zinedine Zidane yang merupakan imigran. Dulu tempat Zidane lahir dikenal sebagai dengan sumber masalah karena kriminalitas yang tinggi. Namun, ketika Zidane menangis saat menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, dia tidak lagi dianggap imigran tapi sudah dielu-elukan sebagai pahlawan. Tentu setelah sukses sebagai pemain dan belakangan berhasil menjadi pelatih Real Madrid.
Kisah-kisah kronik dari luar lapangan inilah yang belum banyak kita temui dari Sepak Bola Indonesia. Kita kekurangan pemain yang bisa melecut semangat anak-anak dan bisa memotivasi orang tua miskin agar menyekolahkan anaknya ke Sekolah Sepak Bola. Tentu dengan harapan bisa memperbaiki kualitas keluarga yang miskin itu.
Semua itu terjadi karena pemain kita yang masih berkualitas pas-pasan. Sehingga belum menimbulkan metafora yang membuat bangga banyak orang. Sederhananya, kita belum punya pemain yang menjadi maskot. Kau tahu, pemain yang menjadi maskot sangat perlu untuk memancing imajinasi anak-anak, agar bisa meniru dan bermimpi menjadi pemain hebat.
Celakanya, pengelola sepak bola kita juga tidak kunjung beranjak dari konflik dan konflik. Yang itu bisa saja membuat jengah anak-anak untuk bercita-cita menjadi pemain hebat. Mungkin, kita butuh banyak kepiluan lagi agar sepak bola kita bisa naik kelas.

*Tulisan ini pertama kali terbit di www.panditfootball.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy