Piknik dengan Buku

Sejumlah peserta bedah buku dan halal bi halal
berpose disela-sela acara.

Bagaimana jadinya jika pustakawan, seniman, penulis, pegawai, karyawan, dan aneka jenis profesi lain disatukan dengan buku. Saya kira yang terjadi hanyalah piknik yang luar biasa asyiknya. Kau tahu, sebagaimana hobi lain di dunia ini, buku juga bisa menjadi alat piknik yang menyenangkan.
Hal inilah yang terasa saat menghadiri Bedah Buku dan Halal Bi Halal anggota Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat (FKTBM) Malang Raya, Minggu (31/7) lalu. Jauh sebelum acara berlangsung,  grup WhatsApp FKTBM riuh bukan main. Mereka seolah mau piknik ke tempat favorit yang sangat jauh.
Panitia yang mengurus acara menyebar list sumbangan sukarela dari anggota. Dan para anggota-pun dengan antusias menyumbang. Tanpa beban dan paksaan. Ada yang menyumbang beras, lontong, telor, kertas minyak, kuah lodeh, tempe-tahu, sambel, dan lain-lain.
Semangat iuran sukarela inilah yang menurut saya menarik. Saya membayangkan iuran tersebut seperti antusiasnya orang desa ketika mau piknik ke tempat jauh. Ada yang membawa nasi satu termos, membawa camilan, dan lauk pauk seadanya. Disela-sela piknik, orang-orang desa itu membeber tikar, lalu makan bersama. Sederhana. Tapi piknik yang menyenangkan.
Kesederhanaan itu rupanya disambut antusias masyarakat dan pengelola taman baca. Hampir 200 orang datang. Mayoritas pengelola taman baca gratis di Malang Raya juga datang. Di Malang Raya, ada sekitar 80 taman baca gratis.
Ratusan orang yang datang mayoritas tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Padahal, acara berlangsung sekitar lima jam. Mungkin para pencinta buku itu benar-benar melaksanakan piknik. Apalagi, yang bicarakan waktu itu adalah kesukaan mereka yakni buku.
Ada tiga buku yang dibedah yakni novel berjudul Cinta Komaku karya Nia Kiena dan kawan-kawan, Novel berjudul Episode Hujan karya Lucia Priandarini dan Buku kumpulan esai karya saya berjudul Para Pembisik Kedunguan.
Semua penulis hadir dan semuanya dibahas dengan asyik oleh pembanding. Novel Cinta Komaku yang mendapatkan giliran pertama disambut antusias dengan banyaknya yang bertanya. Novel ini merupakan karya ketujuh Nia Kiena. Tentu saja, yang bersangkutan penulis dengan jam terbang tinggi yang membuat suasana bedah buku tersebut seperti piknik yang asyik.
Novel Episode Hujan mungkin bagi pencinta novel di Indonesia tidaklah asing. Datanglah ke toko buku, Anda akan menemukan buku tersebut terpajang di jajaran buku-buku best seller. Saya tiba-tiba tertarik membaca novel ini setelah mendengarkan samar-samar paparan Lucia dan pembanding Denny Mizyar.
Karena novel ini sangat dekat dengan kehidupan saya yakni dunia wartawan. Novel ini bercerita tentang wartawan dan huru hara tahun 1998. Lucia menulis novel ini sebenarnya berawal dari niat sederhana yakni menggugah kesadaran kritis pada anak muda.
Kata dia, jika belakangan tersohor kata-kata Menolak Lupa. Menurut dia, yang lebih berbahaya adalah Lupa Melawan. Buku Episode Hujan, merupakan ikhtiar Lucia agar kita-kita semua tidak Lupa Melawan.”Karena kalau orang sudah lupa melawan adalah pilihan, untuk tidak melawan,” kata dia.
Lalu, karena sudah tidak ada lagi rezim otoritarian dan penjajah yang sudah puluhan tahun hengkang, kepada siapa kita harus memberi perlawanan ?. Menurut Lucia, apa yang dilakukan para pengelola Taman Baca di Malang Raya ini merupakan bentuk dari perlawanan.
Saya kira Lucia benar. Bahwa ungkapan kalau warga Indonesia malas membaca, harus dilawan dengan menghadirkan buku ketengah masyarakat. Pustakawan harus mendekatkan buku gratis dan berkualitas kepada masyarakat. Merekalah sejatinya para pejuang literasi di Malang Raya. Mungkin, jika dalam istilah Jepang, para pustakawan ini sudah memilih ‘jalan pedang’ dengan menjadi samurai. Mereka bekerja jauh dari sorot kamera, jauh dari gelimang uang, tapi manfaatnya begitu nyata.
Hari mulai beranjak siang, giliran buku saya yang dibedah. Para peserta tidak banyak yang berancak. Yang membedah buku saya adalah Eko Cahyono, seorang master taman baca dari Jabung, Kabupaten Malang yang kiprahnya sudah menasional. Berbagai penghargaan Nasional sudah dia raih.
Eko benar-benar menguliti buku saya dengan sangat dalam. Bahkan, jumlah salah ketik semuanya terdeteksi oleh Eko. Totalnya ada tiga belas kata yang keliru. Mempunyai tertuis memunyai, tuhan ditulis dengan T kecil, membonceng tertulis menggonceng, bayang-bayang tertulis baying-baying, dan lain-lain.
Tak hanya itu, Eko juga hafal berapa orang yang disebut dalam buku saya. Semisal Jokowi saya ‘gunjing’ berapa kali, Dahlan Iskan berapa kali, Seno Gumira Aji Darma berapa kali, semuanya Eko hafal dan dia menyebut jumlah berapa kali orang itu digunjing. Saya yang menulis, tidak ingat sedetail itu. Selain itu, ada banyak kritikan lain yang dilontarkan oleh Eko. Saya menerima, karena memang kritikannya sangat konstruktif.
Selain kritikan-kritikan itu, Eko juga melontarkan pujian. Menurut dia, buku Para Pembisik Kedunguan adalah buku yang sangat lengkap. Dan perlu dibaca oleh pencinta sastra karena didalamnya banyak membahas sastrawan, perlu dibaca wartawan karena didalamnya membahas jurnalistik.”Dan bagi yang belajar menulis buku ini sangat perlu dibaca karena dari hal-hal sederhana bisa menjadi tulisan yang menarik di buku ini,” kata Eko.
Setelah itu, pujian Eko semakin menjadi-jadi.”Delapan belas tahun saya menjadi pustakawan, buku seperti ini yang saya nanti-nanti,” kata Eko.”Buku yang menceritakan buku lain sehingga memancing kita membaca buku-buku yang dibahas dalam buku ini.”
Setelah acara, beberapa buku yang saya bawa tandas terbeli oleh audiens yang hadir. Saya yakin, itu semua karena ‘motivasi’ Eko. Pada acara ini, saya juga baru sadar kalau Eko selain pustakawan juga mempunyai skill marketing yang luar biasa. Dan saya kira, skill marketing ini juga harus dimiliki pustakawan agar bisa memancing orang berbondong-bondong ke perpustakaan. Karena hanya kesia-siaan ketika buku berjibun, tapi perpustakaan sepi dari pembaca.
Acara asyik tersebut lalu diakhiri dengan makan-makan dan bagi-bagi buku kepada pengelola taman baca. Jadilah waktu itu kita melaksanakan dua hal sekaligus, yakni piknik dengan buku dan ibadah karena ada halal bi halal.
Kedepan, saya membayangkan semua orang di negeri ini selalu bergairah ketika membicarakan buku sebagaimana bergairahnya anggota FKTB pada acara itu. Setidaknya, jika tidak bisa di negeri ini, minimal di Malang Raya.
Saya membayangkan suatu saat Malang Raya bisa menjadi seperti Kota Hay-On-Wye, Wales, sebuah kota kecil berjarak 400 Kilometer dari Inggris. Kota ini adalah surga bagi pencinta buku, karena memiliki lima juta buku. Selain dipajang di perpustakaan, buku-buku baru dan bekas ini juga diperdagangkan. Kota ini pernah mendapatkan rekor dunia karena melimpahnya buku yang ada. Di kota ini jugalah, ada rak terpanjang di dunia yakni sekitar 40 kilometer. Wow, kalau di Malang, panjangnya rak buku ini setara dengan Lawang-Kepanjen.
Kota buku ini berawal ketika Richard Booth membeli sebuah bangunan yang kemudian disulap menjadi penyimpan ribuan buku.”Seburuk apapun wajah sebuah buku, pasti ada orang yang menginginkannya,” kata Booth.
Sebagaimana Lucia, Booth menganggap gerakannya di kota Hay, adalah bentuk perlawanan kepada pemerintah pusat. Booth tidak ingin kota ini bergantung kepada pemerintah pusat.”Demokrasi tak pernah ada. Demokrasi telah dicekik oleh birokrasi,” kata Hay.
Mari jangan lupa melawan, minimal melawan dengan buku-buku.





Komentar

Abdi Purmono mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy