Alif

(cerpen ini dibuat dalam rangka memperingati hari santri 2016)
 
Alif masih meluruskan shaf salat ketika ada orang menjawelnya dari belakang. Mulanya dia mengira orang itu keamanan pesantren yang akan menghukumnya karena dia tidak berbaju putih ketika shalat di mushola. Baju putih satu-satunya yang dia miliki hilang entah kemana ketika dijemur.”Ada ayahmu,” kata teman kamarnya. Anggapan Alif salah. Dia bergegas tak melanjutkan shalat.
Alif melihat pemandangan tak biasa dari wajah ayahnya. Ketika itu penuh keringat serta debu, jaketnya bau asap kendaraan, celananya yang putih mulai menguning. Celana itu juga celana putih satu-satunya milik sang Ayah. Alif mengucap salam. Tak sempat menjawab, ayahnya langsung menyela.”Perusahaan tempat ayah bekerja bangkrut, ayah dipecat jadi satpam, sekarang masih cari kerja,” katanya.
Alif kaget tapi sebisa mungkin dia menutupi kekagetannya. Alif sadar kalau hanya menjadi satpam itulah pemasukan satu-satunya keluarga mereka. Ibunya yang buta huruf, tidak bekerja. Kadang, hanya membantu menyeterika pakaian tetangga dengan dikasih uang tak seberapa. Sedangkan ayahnya yang berbadan tambun dan juga buta huruf, nyaris hanya bisa menjadi satpam.
Selama beberapa menit, Alif tidak berbicara apa-apa. Dia hanya memandangi wajah ayahnya yang muram dan sesekali menyeka keringat. Air mata hampir jatuh dari matanya yang coklat, tapi sang ayah sebisa mungkin menahan buliran air mata itu jatuh ke pipinya.
Hari itu merupakan hari terakhir Alif mendapat kunjungan. Sudah tiga bulan dia lalui hari Jumat demi hari Jumat tanpa kunjungan orang tua. Ketika teman sekamarnya selalu dikunjungi setiap hari Jumat, Alif memilih olahraga di lapangan pesantren. Dia takut ditanya temannya, kenapa tidak pernah lagi mendapat kunjungan. Hatinya nelangsa, tapi sebisa mungkin Alif sabar. Tetap ceria di pesantren.
Alif belakangan juga sering ke perpustakaan pesantren ketika hari jumat tiba. Dia baca apa saja yang bisa dia baca. Sebenarnya Alif yang masih kelas dua SMP tidak terlalu suka membaca buku. Pada bagian buku, dia hanya suka membaca sampul bagian belakangnya, yang berisi puja-puji pada penulis. Setelah membaca sampul, Alif hampir tidak pernah membaca isu bukunya. Paling mentok dia membaca biodata penulis di halaman paling terakhir. Sesekali dia ingin menjadi seperti mereka, tapi mengingat kedua orang tuanya yang buta huruf, angan-angan itu tidak pernah dia seriusi.
Jika masih ada waktu untuk mendekam di perpustakaan, Alif kadang membaca koran di majalah dinding. Para santri menyebutnya koran dinding. Karena koran ditempel di dinding yang terbuat dari kayu. Untuk bisa membacanya, para santri harus berdiri. Santri yang masih kecil, harus naik kursi. Kadang ada yang jatuh, lalu jadi bahan olok-olok santri lain.
Sebagaimana buku, Alif juga tidak suka membaca isi koran yang beritanya panjang-panjang. Dia hanya melihat foto-foto-nya. Paling suka, Alif melihat kolom di pojok bawah koran halaman depan. Disitu ada rubrik bernama Apa Saja. Di tempat inilah dimuat gambar lucu yang bisa membuat Alif tertawa terbahak-bahak. Jika sedang lapar, kadang laparnya langsung hilang. Jika sedang pusing karena hafalan surat-surat pendeknya di alquran selalu hilang, setelah melihat gambar-gambar, hafalannya semakin hilang.
Paling banyak, foto yang dimuat di rubrik ini adalah foto yang ada di bak truck. Disana, Alif pernah menemukan kata-kata yang menurut dia sangat lucu. Semisal ada gambar lelaki dilengkapi tulisan seperti ini: Pulang Gengsi, Tidak Pulang Kangen. Tulisan lain diantaranya Pergi Dicari, Pulang Dimarahi. Dilarang Mengangkut Istri Orang. Dua Anak Cukup, Dua Istri Bangkrut. Ngebut Adalah Ibadah, Semakin Ngebut Semakin Dekat Dengan Tuhan. 
Aneka macam tulisan ini cukup berhasil menghabiskan waktu Alif. Dia keperpustakaan untuk baca buku dan koran tujuannya bukan untuk pintar, tapi hanya untuk mencari hiburan disaat teman-teman satu kamarnya mendapatkan kunjungan dari keluarga mereka. Kadang Alif ingin menelepon ayahnya untuk sekedar bertanya kapan dia mendapatkan kunjungan seperti teman-temannya yang lain, tapi niat itu selalu dia urungkan karena Alif sadar kalau ayahnya bukan tidak punya niat ke pesantren. Meski niat ada, tapi uang yang tidak ada sehingga tidak bisa mengunjungi Alif. Untuk berkunjung, selain butuh uang bensin, juga harus memberi sejumlah uang kepada Alif untuk bekal hidup di pesantren.
Di rumah, ayahnya masih pontang panting mencari kerja. Pernah melamar ke restoran cepat saji, tapi ditolak karena hanya untuk membaca menu saja tidak bisa. Pernah melamar menjadi satpam, dia kalah bersaing dengan satpam yang muda-muda. Suatu ketika, dia ingin bertani, tapi tidak punya tanah. Menjadi buruh tani, sudah tidak ada peluang. Semuanya sudah beralih dikerjakan mesin. Sang ayah bingung dan Alif selalu melalui malam-malamnya di pesantren dengan rasa lapar.

***

Liburan Ramadan sudah tiba. Itu artinya ketersiksaan Alif selama lima bulan belakangan segera berakhir. Setidaknya dia bisa pulang ke rumah, memakan apa yang bisa dimakan di rumah, tidak lagi menunggu belas kasihan teman-temannya di pesantren yang menawarinya makan. Semenjak tidak dikirim oleh orang tuanya, Alif merasa hidupnya menjadi parasit. Kadang hutang uang kepada temannya, kadang meminta beras, kadang pula mencari sisa-sisa nasi di dapur pesantren setengah reyot dengan dinding yang menghitam karena asap.
Meski perut lapar, Alif sebisa mungkin tidak mencuri. Pesan kakeknya selalu dia pegang teguh-teguh. Saat mau berangkat nyantri, sang kakek berpesan kalau pesantren itu tempat yang sakral. Kalau di pesantren mencuri, lulus akan menjadi maling. Kalau dipesantren sering bikin onar, lulus akan menjadi preman. Ketika pesantren berprilaku baik, paling buruk bisa menjadi kiai kampung.”Kamu harus hidup seperti Alif dalam Alqur’an.”
”Maksutnya kakek ?,” Alif bertanya.
”Hidup yang lurus, bisa mengalahkan godaan, dan menjadi pelengkap bagi kehidupan orang lain,” sang kakek menjawab singkat. Kamu tahu, Alif merupakan pelengkap bagi huruf-huruf lain di Alqur’an. Meski pelengkap, tapi Alif kadang bisa berdiri sendiri. Tengok saja di permulaan surat Al Baqoroh, disitu alif berdiri sendiri bersama lam dan mim. Jadilah, kalimat alif lam mim, menjadi pembuka surat yang berartikan sapi betina itu.”Artinya Alif, kamu bisa hidup bersama dengan orang lain, tapi ketika harus hidup sediri, kamu juga bisa,” katanya. Alif diam saja, sambil manggut-manggut. 
Pesan itulah yang selalu menyelamatkan Alif ketika hendak mencuri beras teman-temannya. Pernah suatu ketika, sudah satu hari setengah Alif tidak makan. Perutnya berdendang tanda lama tak terisi. Langkahnya gontai.  Dia berniat mencuri beras teman satu kamarnya. Ketika itu semua teman kamarnya sudah berangkat mengaji.”Ini waktu yang tepat Alif.” Kalimat itu seolah ada yang membisiki. Dalam agama, mungkin ini yang dinamakan bisikan setan. Atau jin, atau mungkin itu bisikan Alif sendiri yang sudah terlampau lama tidak makan. Alif termotivasi. Tapi, belum sempat Alif mengambil beras dari karung, seorang keamanan pesantren menggedor-gedor pintu tetangga kamar Alif agar para santri berangkat mengaji. Dia ketakutan, lalu bergegas untuk mengaji. Niat itu akhirnya terkubur setelah sang kiai ketika mengaji juga membahas makna huruf Alif di Alquran. Alif langsung teringat pesan kakek. Dia lantas terbayang senyum kakek yang khas. Alif bergumam, apakah sang kakek di alam baka sana tersenyum karena Alif sudang mengurungkan niatnya mencuri. Atau sang kakek sedih, karena Alif sudah mau mencuri. Alif tidak tahu jawabannya, dia hanya tersenyum sendiri sambil tetap memegang kitab. Kini, laparnya sudah sedikit menghilang.

***

Sudah satu bulan tiga belas hari Alif liburan di rumah. Hari itu, 7 Juli 2005, Alif sudah harus sampai ke pesantren. Liburan Ramadan selama satu bulan tiga belas hari sudah diputuskan oleh dewan pengasuh. Itu tidak boleh dilanggar. Melanggar sama artinya merelakan rambut Alif dicukur gundul oleh keamanan pesantren. Kau tahu, hukuman yang paling sering diterima oleh orang yang melanggar adalah penggundulan rambut. Kalau tidak begitu ya dijemur seharian di halaman pesantren.
Alif sadar kalau kondisi keuangan orang tuanya belum membaik. Sudah enam bulan lebih ayahnya mencari kerja, tapi tidak kunjung dapat. Apalagi ini habis lebaran, jelas saja menguras kantong keuangan orang tuanya.”Kamu harus tetap kembali ke pesantren Alif,” kata Ayahnya.
Alif mengiyakan meski dia tahu kalau sang ayah sudah menghalalkan segala cara agar Alif bisa kembali ke pesantren. Malam hari sebelumnya, Alif mendengarkan percakapan antara ibu dan ayahnya. Dalam percakapan yang terdengar samar-samar dari kamar Alif itu, sang ayah mengatakan kalau uangnya tinggal lima ratus ribu.”Ini juga buat kehidupan kita satu bulan kedepan, jaga-jaga kalau saya masih belum dapat kerja,” katanya.
Sedangkan Alif setidaknya butuh uang Rp 350 ribu untuk kembali ke pesantren. Rp.50 ribu untuk beli kitab, dan sisanya untuk uang hidup sebulan. Dengan uang segitu, Alif sudah akan terbebas dari rasa lapar dan juga niat mencuri.”Ya sudah, gadaikan saja BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor),” Ibu Alif memberikan solusi. Sang ayah mengiyakan. Pagi-pagi betul ayah Alif datang ke rumah rentenir yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Ayah Alif bungah anaknya bisa kembali ke pesantren tepat waktu.
Sore sudah mulai beranjak pergi, langit di kampung Alif mulai berwarna jingga. Menggunakan sepeda motor RX King yang sudah berumur lima belas tahun, sang ayah menggeber sepeda motornya untuk mengantar Alif ke Pesantren. Dengan jarak tempuh sekitar tiga jam, artinya sekitar jam setengah sembilan malam Alif sudah sampai di Pesantren. Dengan demikian, Alif akan terbebas dari hukuman keamanan yang manakutkan itu.
Di perjalanan yang basah karena hujan di sore hari, sang Ayah banyak menasehati dan bercerita kepada Alif susahnya mencari kerja. Dia tidak ingin anak satu-satunya ini tidak punya ilmu sebagaimana dia. Yang selalu ditolak mencari kerja karena buta huruf.”Saya boleh bodoh, tapi kamu tidak boleh, harus rajin dan pandai ilmu agama,” kata ayah Alif.
Ayahnya melanjutkan, kalau sudah pandai ilmu agama, maka tidak akan sulit mencari pekerjaan. Dia lalu mencontohkan menteri agama yang memimpin sidang isbat saat menjelang Ramadan dan  lebaran lalu. Ayah Alif bangga dengan menteri agama itu, menurutnya, menteri agama orangnya genteng, pandai dan juga berbudi luhur.
Ketika memimpin sidang isbat, wajahnya meneduhkan. Tidak seperti para agamawan yang seolah sudang mengkavling tanah surga. Ketika didebat oleh pengurus organisasi yang sering merazia tempat karaoke, menteri Agama itu tidak larut dalam emosi. Meski pengurus organisasi itu gedor-gedor meja, sang menteri tetap tenang. Dia menasehati orang itu dengan kata-kata yang teduh. Tanpa dalil. Akhirnya sidang kembali lancar dan tidak ada lagi yang protes.”Hingga akhirnya kita tidak terlalu lama mendapatkan keputusan kalau keesokan harinya idul fitri,” katanya.”Kelak kau semoga seperti itu, menteri agama pintar karena dulu dia rajin belajar saat di pesantren,” Alif menjawab amin.
Sebenarnya Alif bergumam di dalam hatinya. Ketika awal berangkat menjadi pesantren dia hanya ingin menjadi kiai kampung. Dia merasa takjub ketika melihat orang berkhutbah di atas mimbar. Dia selalu menganggap kiai kampung hebat karena bisa terlihat kharismatik ketika di berkutbah di masjid. Tapi kiai yang kharismatik itu bisa mendadak menjadi lucu ketika berceramah di pengajian kampung. Orang terbahak-bahak tapi kadang ketika bercerita hal sedih orang bisa nangis menggerung-gerung. ”Hebat sekali kiai kampung,” kata Alif. Setelah membuat orang tertawa atau menangis, kiai kampung itu mendapatkan uang dari salam tempel.”Tidak akan lapar ketika menjadi kiai kampung.”
Ketika Alif bergumam itu, sang ayah yang kini menurunkan kecepatan sepeda motornya berkata yang seolah tahu apa yang Alif pikirkan.”Menteri itu memang kebanyakan dari partai politik,” katanya.”Tapi tidak semua orang partai politik buruk, kalau menjadi menteri baik pahalanya melebihi kiai kampung,” imbuhnya.
Alif mengangguk meski ayahnya tidak akan melihat anggukan Alif. Setelah itu senyap. Sunyi. Kedua orang ini hanya menatap kegelapan yang ada di depan mereka. Setelah melewati hutan tandus di desa, kini mereka melintasi kota yang lampunya mengkilat-kilat. Kendaraan besar dari depan seolah hendak menelan sepeda motor mereka yang mungil dan ringkih.
Untung tidak bisa diraih, malang tidak dapat ditolak. Ditengah perjalanan yang udaranya semakin malam semakin dingin itu, tiba-tiba rantai sepeda motor mereka putus. Rantai sepeda motor itu lantas terjepit diantara besi yang ada di sepeda motor. Ini membuat sepeda motor ini sama sekali tidak bisa berjalan. Ayahnya mendorong-dorong, tidak bisa. Alif menolong dari belakang juga tidak bisa. Berkali-kali, tapi tetap tidak bisa.
Meski tepat bermasalah di tengah kota, tapi semua bengkel mayoritas sudah tutup. Alif mencari bengkel keselatan, dan ayahnya ke utara. Mereka tinggalkan sepeda tua itu. Mereka menganggap tidak akan ada yang mau mencuri sepeda tua. Bagaimana mau dicuri, kalau sepeda motor itu tidak bisa dijalankan sama sekali karena rantai yang terjepit. Alif tidak menemukan bengkel. Ayahnya menemukan bengkel yang terbuka sedikit. Dia masuk, toleh kanan, toleh kiri tidak ada orang. Hingga pada akhirnya setelah memencet bel berkali-kali ada orang berusia sekitar 50 tahun yang keluar.”Bengkelnya sudah tutup, itu kamu lihat bukanya hanya sedikit saja,” kata orang itu.
“Saya minta tolong membenarkan rantai yang putus dan terjepit sehingga sepeda motor saya tidak bisa berjalan,” kata ayah Alif.
”Tidak bisa, saya sudah mandi, waktunya istirahat,”
”Saya minta tolong tuan,”
”Tangan saya sudah bersih, takut kotor,”
”Sekali ini saja, saya minta tolong,”
”Sekali tidak bisa ya tetap tidak bisa, kalau mau ini beli rantai,”
Setelah itu ayah Alif hanya membeli rantai sepeda motornya. Lalu mereka benahi sendiri rantai putus yang menyebalkan itu. Tangan keduanya lalu berjibaku dengan rantai, mereka benahi dengan obeng, tapi tidak bisa. Mereka tarik, tapi tetap terjepit. Sesekali, Alif mengumpat karena terlalu lama menarik-narik tapi tetap saja rantai itu terjepit. Sang ayah menasehati, Alif kali ini tidak peduli. Alif kesal sekaligus murung teringat gunting pengurus keamanan yang akan mengundulnya ketika lambat masuk pesantren.
Malam mulai larut, kendaraan mulai sepi. Lampu jalanan yang sebelumnya bersimbah cahanya, satu persatu mati. Dan masalah rantai tidak kunjung bisa diselesaikan. Hingga akhirnya, tepat pukul setengah dua belas malam atau empat jam setelah mereka membenahi rantai mereka, rantai itu bisa ditarik. Kemudian rantai baru oleh ayah Alif terpasang.
Alif tiba di pesantren pukul setengah satu malam atau terlambat setengah jam. Pesantren tingkat dua yang lantainya terbuat dari kayu itu sudah sepi. Hanya terdengar air yang kadang mengucur dari kamar mandi dekat musola. Mungkin, santri yang ke kamar mandi ini hendak menunaikan salat malam. Tempat lain yang masih telihat ada aktivitas adalah kamar pengurus. Alif harus ke kamar pengurus untuk melaporkan kedatangan.
Tubuhnya bergetar menghadapi tubuh keamanan yang besar-besar. Diantara mereka ada yang memegang kayu yang besarnya seperti satu jempol kaki orang dewasa. Orang pesantren menyebutnya kayu penjalin. Biasanya, kayu ini dibuat menggedor-gedor kamar pesantren agar santri bergegas ke Mushola. Alif membayangkan betapa tersiksanya dipukul dengan kayu penjalin ini. Jika yang dipukul betis, maka dia akan sulit berjalan keesokan harinya. Kalau yang dipukul tangannya, otomatis dia tidak lagi bisa menulis makna kitab kuning yang dibacakan kiai-nya.”Saya yakin pengurus keamanan tidak akan memukul, karena memang pesan kiai tidak boleh memukul santri,”
”Kamu tahu apa yang kamu tanggung karena ketidak disiplinanmu ?,” kata seorang keamanan yang terlihat lebih garang ketika memakai kopyah hitam.
“Tapi..?,”
Belum selesai Alif berucap, pengurus keamanan lain menyela.”Kita tidak menerima alasan,” katanya setengah membentak. Setelah itu Alif bergegas ke kamarnya, sedangkan ayahnya langsung pulang setelah mengantarkan Alif ke kantor keamanan. Sang Ayah hanya meminta Alif bersemangat meski seandainya hukuman digundul oleh keamanan diberlakukan.
Subuh menjelang, kegundahan Alif belum juga hilang. Dia takut hukuman di gundul benar-benar dilaksanakan. Dia takut malu, takut terlihat jelek, dan takut menjadi bahan olok-olokan teman-teman pesantren. Alif shalat subuh dengan keadaan cemas. Jika biasanya hukuman gundul santri dilakukan pukul setengah delapan pagi, itu artinya tiga jam lagi rambutnya sudah tidak ada lagi. Itu artinya sebentar lagi kopyah hitam kumalnya akan sedikit kebesaran.
Setelah shalat subuh, pengajian kitab Riyadus Shalihin dimulaiKitab ini merupakan karangan ulama’ besar  yakni Imam An Nawawi. Dibanyak pesantren, Riyadus Shalihin yang berati taman-taman orang yang shaleh merupakan kitab wajib yang harus dipelajari santri. Dengan kegundahan hati dan terbayang-bayang betapa malunya ketika dia digundul, Alif sebisa mungkin tetap berkonsentrasi mengaji kepada KH Yasini yang terkenal sangat alim.
Pagi itu, Bab yang dibahas oleh KH Yasini dari kitab itu adalah bab sabar atau assobru. Kata Kiai Yasini orang yang tidak sabar, sama seperti orang yang tidak punya agama. Lalu Alif termangu sambil menatap wajah KH Yasini. Dia teringat hukuman yang akan dia lalui, dan teringat ayahnya yang pontang panting mencari pekerjaan. Bab sabar itu, telah membuat Alif selalu sabar menjalani kehidupan. Hingga akhirnya, kelak semua orang tahu kalau kita pernah mempunyai Menteri Agama bernama Alif. Selama menjadi menteri, dia hanya berharap ayah, ibu dan kakeknya tersenyum di kuburan. Dan tidak lagi kelaparan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy