Bertamu ke Rumah Koeboe Sarawan



Koeboe Sarawan adalah pelukis paling berpengaruh di Malang, atau bahkan di Indonesia saat ini. Sekitar empat tahun setengah jadi wartawan, saya belum pernah bertemu langsung. Saya mengetahui sedikit kiprahnya dari berita di koran. Terakhir, saya membaca cerita tentang Koeboe dan rumahnya dari rubrik Aku dan Rumahku di Kompas.
Untuk sebuah urusan kantor, Sabtu lalu (5/11) saya bertandang ke rumahnya yang asri di Batu.  Tapi, kesan tentang Koeboe saya dapat jauh sebelum sampai ke rumah itu. Dalam sebuah percakapan via pesan singkat, saya melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
Dalam pesan singkat perkenalan, saya salah menyebut namanya. Saya menulis namanya: Kubu Sariawan. Rupanya, tombol handphone saya bekerja otomatis. Ketika saya menulis Sarawan, tiba-tiba yang terpencet kata Sariawan. Lalu terkirim. Sebelum dia membalas, saya kirim SMS permintaan maaf kalau kata Sariawan saya tulis tanpa kesengajaan.
Dia menjawab singkat.”Untuk masalah kesalahan nama Ndak problem mas, kebetulan pas sariawan ini... hehehe.” Ketika keesokan harinya kerumahnya, saya tahu kalau pengakuan Koeboe sedang sakit sariawan hanya guyonan saja, mungkin agar saya tak memikirkan kesalahan remeh temeh itu. Saya tidak melihat dia sedang sakit sariawan ketika ngobrol panjang lebar di rumahnya.
Bertamu ke rumah Koeboe di Jalan Darsono Barat, Kota Batu, saya merasakan kalau rumah ini benar-benar rumah seni. Assesoris rumahnya dipenuhi ukiran kayu. Banyak tanaman yang membuat rindang rumah itu. Dia menyuguhi saya kopi hitam, dan lemper yang kenyal.
Tidak berselang lama setelah saya mengutarakan tujuan kedatangan, dia mengajak saya ke lantai tiga. Tangga rumah itu kecil, hanya cukup dilintasi satu orang. Papan tangganya terbuat dari kayu. Jalannya berliku, dan ada beberapa cabang anak tangga yang mengarah ke sejumlah ruangan.
Di lantai tiga, alat-alat lukis tergeletak begitu saja di ruang kerja Koeboe yang luasnya sekitar separo lapangan futsal. Ada beberapa lukisan yang kayaknya sudah mau selesai.”Ini lukisan saya yang akan dipamerkan di Singapura, awal tahun depan,” katanya.
Pameran di Singapura itu merupakan pamerannya yang kedua di luar negeri. Beberapa tahun lalu, dia pernah pameran di Tiongkok. Di Indonesia, dia hampir pernah pameran di sejumlah kota besar. Dia juga pernah melukis untuk sekitar sepuluh jenis perangko. Lukisannya dijadikan gambar dibeberapa jenis perangko yang biasa kita gunakan untuk surat menyurat. Paling prestisius tentu saja dia pernah pameran tunggal di Galeri Nasional. Tidak sembarang pelukis bisa pameran di tempat ini. Apalagi ini pameran tunggal.”Karena karya harus dinilai, dan kadang setelah karya lolos masih antri sampai dua tahun.”
Dia lalu mengambil buku berupa katalog pameran tunggalnya. Saya hanya membuka buku itu sekilas saja. Saya melihat lukisannya memang bagus. Sama bagusnya dengan lukisan yang sedang ada di depan saya saat itu. Dia lalu beranjak lagi, mengambil buku tentang ilustrator cerita pendek yang pernah dimuat di kompas.
Sejak itulah saya baru tahu kalau kompas beberapa tahun terakhir menggandeng seniman lukis untuk membuat ilustrasi dari cerpen yang akan dimuat.”Saya sudah tiga kali diminta,” katanya.”Dan ilustrasi ini dipamerkan keberbagai kota,” imbuhnya. Lalu saya berfikir mungkin hanya kompas yang mengundang pelukis untuk menggambar ilustrasi untuk cerpen. Biasanya, ilustrasi cerpen di buat oleh desainer grafis yang dimiliki koran.
Kepada pria 55 tahun ini saya bertanya sejak kapan dia melukis. Dia mengatakan kalau sejak SD dia mulai berkesenian dan melukis. Ayahnya merupakan dalang. Dan kini ketiga anaknya juga berkesenian semua. Ada yang menari, dan ada yang melukis.”Tidak ada yang eksak,” ucapnya. 
Karena sudah puluhan tahun berkarya, tentu banyak sekali karya lukis yang sudah dihasilkan Koeboe. Jika dibilang banyak memang banyak, tapi menurut dia tidak sampai ribuan. Hanya ratusan. Dia beranggapan kalau dalam melukis dia tidak bisa ditarget dan di deadline.
Oleh karenanya, dalam setahun kadang dia hanya menghasilkan dua hingga tiga lukisan.”Melahirkan karya itu bagi saya seperti melahirkan anak, tidak bisa ditarget dan terburu-buru. Setahun kadang saya cuman melahirkan dua hingga tiga lukisan,” kata Koeboe.
Koeboe mungkin hendak mengajarkan kalau melukis, sebagaimana menulis, proses pembuatannya harus menggunakan hati. Tidak boleh terburu-buru, agar tidak hanya menghasilkan karya yang hanya sekedar bergumam. Atau coretan yang miskin nilai.”Dan menurut saya jadi wartawan itu juga seni, karenakan nulis itu butuh perasaan dan hati juga,” imbuhnya.
Setelah itu obrolan kita melebar kemana-mana. Kita membahas sastrawan asal Kota Malang yang melegenda almarhum Ratna Ibrahim, penulis tasawuf modern Agus Mustofa yang ternyata teman satu kelas Koeboe, perkembangan seni lukis di Batu, hingga penulis tersohor Sindhunata yang kebetulan tetangga Koeboe di Batu. Kini Sindhunata tinggal di Jogjakarta.”Kalau pulang ke Batu pasti main kesini, dia selalu bertanya apakah di Batu masih banyak orang korupsi, dan dibuat bancakan,” katanya.”Kata dia itu tugas saya agar korupsi berkurang, saya bilang berat-berat.”
Koeboe juga mengajak saya suatu saat berkunjung ke rumahnya di Selekta yang menurut dia cocok untuk berkarya. Di rumah itu, kata dia, spirit berkarya akan bangkit. Rumah inilah yang oleh Kompas dibahas ceritanya beberapa bulan lalu.
Setelah kopi di gelas tinggal ampas, dan satu lepet sudah tandas, saya pamitan. Ketika itu, saya tidak bilang kalau pertemuan singkat itu akan saya tulis. Saya tiba-tiba ingin menuliskannya saja, tanpa alasan yang macam-macam. Saya menuliskannya hanya berbekal ingatan karena ketika itu minim mencatat. Semoga saja, Koeboe tidak keberatan, dan tidak ada yang salah sebagaimana cerita tentang sariawan di atas. Semoga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy