Pembaca Ulung dan Keabadian untuk Lintang




Saya selalu senang melihat keluarga yang mencintai buku. Kira-kira sama senangnya ketika mendengarkan kabar satu keluarga yang memutuskan tidak pakai smartphone. Dalam keluarga itu terdapat enam orang, mereka ramai-ramai menjual smartphone, lalu menggantinya dengan telepon seluler (ponsel) Nokia yang hanya bisa untuk telepon dan mengirim pesan singkat.
Lalu, komunikasi di dalam keluarga itu menjadi cair. Tak ada lagi anggota keluarga yang sibuk dengan gawai (gadget) saat yang lain bercakap-cakap. Tak ada lagi bentakan agar mereka menanggapi ucapan satu sama lain, atau anggota keluarga yang tak bisa diam dengan smartphone-nya. Mereka benar-benar menjadi keluarga periang.
Suatu saat, saya bertandang ke keluarga itu. Saya merasakan perbedaan dibandingkan ketika bertamu ke rumah-rumah lain. Kami duduk lesehan dengan karpet seadanya, menyeduh kopi, sambil memakan kacang rebus. Obrolan ngalor-ngidul kami begitu lancar. Tak terganggu pesan WhatsApp yang kadang mengganggu selama berjam-jam. Smartphone saya memang sengaja dimatikan ketika bertandang ke rumah ini.
Kami juga mengobrolkan tentang buku. Ketika itu, kami membicarakan tentang novel Martin Suryajaya yang beberapa waktu lalu, dinobatkan sebagai karya prosa terbaik tahun 2016 oleh majalah Tempo. Si tuan rumah tidak terima, kok bisa novel yang seperti karya ilmiah itu, dapat penghargaan. Saya diam saja, maklum, belum tuntas membacanya. Baru baca separo, saya tidak melanjutkan karena novel itu membuat kepala saya pening.
Malam mulai larut, saya pamit pulang. Keluar dari rumah tersebut, saya merasa bergembira, mungkin karena tiga jam di rumah itu saya tidak membuka smartphone.
Tapi sayang, cerita di atas hanya rekaan saya. Saya membayangkan akan ada keluarga yang seperti itu, setelah membaca beberapa tulisan dan mendengar cerita dari orang-orang yang mencintai buku. Lalu, saya membayangkan hal itu, saya tuliskan, meski tak yakin akan ada keluarga seperti ini hingga beberapa tahun mendatang. Yakni, keluarga yang nekat menjual semua smartphone dan menggantinya dengan ponsel jadul.
Smartphone memang banyak menyela waktu kita. Ratusan atau bahkan ribuan percakapan muncul di grup WhatsApp setiap hari. Semua hal seolah menjadi penting dibahas di WhatsApp. Apabila setiap hari kita membaca semua pesan ini, kalau kita tidak stroke di umur 40 tahun, itu sudah pencapaian bagus. Atau kalau boleh sedikit menjamin, hari-hari Anda akan suram ketika membaca semua percakapan di WhatsApp. Cara paling bijak yang bisa dilakukan, adalah mengabaikan percakapan itu atau menertawakan ketika ada orang berdebat sengit di grup WhatsApp.
Dengan mengurangi bermain smartphone di tingkat keluarga, saya membayangkan anggotanya bisa lebih banyak membaca buku. Tentang keluarga yang membaca buku, setidaknya apa yang dilakukan aktivis lingkungan Wasis Sasmito bisa menjadi contoh. Selasa (23/1) lalu, dia berbagi cerita tentang menumbuhkan budaya literasi saat pembukaan Warung Kopi Oase. Warung kopi yang berkonsep literasi ini, ada di sebelah barat Lapangan Merjosari, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Di rumah Wasis, ada sekitar empat almari besar yang penuh buku. Lantaran kegemaran Wasis membaca buku, anak-anaknya tumbuh menjadi pembaca yang ulung. Lantaran kegemaran membaca itu, anak Wasis juga suka menulis. ”Dari dulu, cita-cita saya tidak ingin mempunyai mobil atau apa, saya hanya ingin mempunyai banyak buku,” kata pria yang juga aktivis Gusdurian Malang ini.
Menurut dia, membaca bisa ditularkan dengan menjadikannya sebagai aktivitas yang menyenangkan. Mungkin mula-mula, Wasis dan istrinya yang suka membaca, lalu anak-anaknya yang melihat, ikut ketularan. Bukankah anak-anak selalu meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Entah itu hal baik atau buruk. ”Saya selalu mengajak anak-anak membaca, tidak pernah mengajak ayo sinau’. Sebab, sinau itu secara psikologis ada kesan beban,” imbuhnya.
Lintang Farajauna Sophia Parennis, anak kedua Wasis, bahkan menulis saat masih kecil. Dia menulis apa aja, catatan sehari-hari, cerita pendek, dan lain-lain. Lintang terus membaca dan menulis, hingga sebuah kejadian pada 2015 lalu menghentikan aktivitas yang sangat dia cintai ini. Lintang meninggal dunia dalam sebuah kejadian tabrak lari.
Setelah itu, Wasis membukukan tulisan-tulisan Lintang. Buku gadis yang masih SMP itu diberi berjudul Mengenalkan dan Mengekalkan Kehilangan. Saya salut terhadap apa yang ditulis Lintang. Bahasanya padat, renyah, dan enak dibaca. Mungkin, itu dampak dari Lintang yang gemar membaca. Sebab, orang yang menulis tapi minim membaca, hanya akan mendaur ulang apa yang mereka tulis sebelumnya.
Kalimat-kalimat Lintang juga sarat makna mendalam. Begini salah satu petikan kalimat Lintang: Kau tahu, keluarga harmonis sebenarnya tidak dinilai seberapa sering mereka bersama mereka. Tetapi sebarapa kuat semangat hidup yang mampu ditiupkan sama lain.
Tentu ini tulisan yang jarang kita temukan dari siswa yang masih seumuran Lintang. Dia mungkin sekarang sudah tidak menulis, tapi tulisan-tulisannya yang ada dalam buku tersebut menjadi suara keabadian. Ini jugalah yang pernah diingatkan Pramoedya Ananta Toer
, bahwa orang yang menulis sebenarnya bekerja untuk keabadian.
Oleh karenanya, anak-anak yang menjadi pembaca ulung, saya kira hidupnya akan mengesankan dibanding anak-anak yang sudah diakrabi dengan smartphone sejak kecil. Sudah saatnya kita membekali anak-anak kita dengan tumpukan buku dan ponsel yang hanya bisa untuk telepon dan berkirim pesan singkat. (*)

catatan: tulisan ini terbit pertama kali di Radar Malang edisi Minggu (29/1/2017).




Komentar

mishad khairi mengatakan…
kita sama-sama di Radar Mas, Saya mantan di Radar Bojonegoro, salam sukses

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy