Bersepeda




Sekitar satu tahun setengah ini saya lumayan rutin bersepeda. Ada banyak hal yang saya dapat dari bersepeda. Selain keringat tentu saja. Saya banyak mendapatkan ide saat bersepeda. Ketika menyusuri tepian kota, juga ketika menyelinap diantara mobil-mobil yang macet.
Mendapatkan ide saat bersepeda tentu sebuah kemewahan. Sebagaimana keringat, Ide adalah anugerah tuhan yang patut kita syukuri. Bayangkan kita hidup tanpa ide, betapa membosankannya. Sebelumnya, seperti yang saya tulis di pengantar buku Para Pembisik Kedunguan, saya sering mendapatkan ide tulisan saat mengendarai sepeda motor. Belakangan, ide beralih muncul saat bersepeda.
Ide yang muncul itu bermacam-macam. Mulai dari ide tentang tulisan, tema liputan, hingga ide tentang banyak hal yang begitu pribadi dengan saya. Namun sayangnya, meski banyak manfaat dari bersepeda yang saya dapat, saya bersepedanya tidak rutin-rutin amat.
Pada bulan-bulan tertentu, saya rutin sekali bersepeda. Satu minggu bisa tiga hingga empat kali. Tapi, pada bulan-bulan tertentu saya sama sekali tidak bersepeda. Aktivitas sepeda saya juga tidak jauh. Sekitar 3-5 kilometer dari tempat saya tinggal di Sanan, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang. Rute-nya kadang ke taman kota, kadang juga ke pinggiran Kabupaten Malang.
Meski sepeda saya tidak bagus-bagus amat, tapi kalau hanya menempuh jarak sepuluh kilometer masih sanggup. Tapi apa daya, diri saya yang tak sanggup. Salah satu tempat yang ingin saya kunjungi dengan bersepeda adalah kebun jeruk. Tapi hingga kini belum kesampaian. Pernah satu kali mencoba, tapi kembali ketika sampai Joyogrand karena sudah ngos-ngosan ketika melintas di tanjakan yang lumayan ekstrem.
Saya membeli sepeda sekitar satu setengah tahun lalu. Saat ulang tahun, istri saya meminta hadiah sepeda. Untungnya, beberapa bulan sebelumnya saya baru dapat arisan. Beberapa hari sebelum istri saya ulang tahun, kita memeli dua sepeda. Istri memilih warna biru, saya memilih warna putih.
Uang hasil arisan tersebut tersisa sedikit saja setelah dibelikan sepeda. Lalu, tidak lama setelahnya uang itu tandas entah kemana. Durasi arisan saya ikuti wdua tahun. Dengan demikian, sebenarnya saya harus menabung dua tahun hanya untuk membeli sepeda… hehehe…
Setelah sepeda terbeli, saya dan istri rutin bersepeda bersama. Biasanya kami bersepeda di pagi hari, kadang juga siang hari. Kalau sore hari hampir tidak mungkin. Saya bekerja, dan istri membuka toko. Belakangan, istri saya sudah jarang bersepeda lagi.
Ketika bersepeda, saya menyukai rute yang tidak begitu berat, juga tidak begitu ringan. Maksutnya, tidak terlalu banyak tanjakan, tapi juga tidak terlalu banyak jalan menurun. Saya suka yang seimbang: ada sedikit tanjakan, banyak jalan datar, dan sedikit jalan menurun.
Karena inilah, biasanya saya memilih jalan rute yang sama saat berangkat dan pulang. Ini dengan harapan, saya juga merasakan turunan dan tanjakan di jalan yang sama. Simpelnya seperti ini, jika saat pulang saya merasakan tanjakan 30 persen, maka saat pulang saya juga merasakan jalan menurun 30 persen. Ini karena saat berangkat dan pulang jalan yang lalui sama.
Dengan rute yang tidak terlalu terjal dan tidak terlalu ringan, saya benar-benar menikmati. Saya tidak terlalu capek, tapi tetap berkeringat. Dengan olahraga yang proporsional, saya mengharapkan ada konsistensi dalam berolahraga. Jadi, tidak berolahraga berat sekali, tapi jarang-jarang.
Mungkin, sebagaimana bersepeda, hidup juga harus proporsional. Kita tidak boleh terlalu sepaneng bekerja, hingga lupa rekreasi. Kita tidak boleh mati-matian mencari urusan duniawi, dan hingga lupa ukhrawi. Nabi pernah bersabda, khoirul umur ausatuha. Sebaik-baiknya perkara adalah yang ditengah. Tentu saja, kecuali donat.     



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy