Mondok dan Islam Internet ala Jonru

sumber foto : http://icipphotos.blogspot.co.id


Seorang teman, begitu tegas tentang pendidikan pesantren untuk anak-anaknya. Menurut dia, menjadi santri adalah wajib. Tidak bisa ditawar. Harga mati. Boleh sang anak memiliki hobi apapun, tapi ketika tumbuh remaja harus menjadi santri. Itu mutlak, tidak lagi bisa ditawar meski sang anak menyampaikan beragam alasan.
Apa kata teman saya itu tiba-tiba terngiang kembali minggu lalu (9/7). Ketika itu saya berkunjung ke Pondok Pesantren  Raudlatul Ulum 1, Ganjaran, Kabupaten Malang. Enam tahun saya mondok di tempat ini. Dari kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTS) hingga lulus Madrasah Aliyah (MA). Bisa dibilang, di tempat inilah penggemblengan mental dan inteletual paling penting dalam kehidupan saya.
Saya teringat ucapan teman karena waktu itu adalah waktu kembalinya santri ke pesantren setelah libur lebaran. Di pesantren, libur lebaran memang panjang. Biasanya sepuluh hari sebelum Ramadan hingga 15 hari setelah lebaran. Ketika bulan puasa, di pesantren memang ada pengajian. Tapi sifatnya tidak wajib alias sunnah.
Ketika saya ke pesantren waktu itu, memang tepat 15 hari setelah lebaran. Jadi, pas dengan kembalinya santri ke pesantren. Semua santri mayoritas datang di hari itu, biasanya jika terlambat akan mendapatkan hukuman.
Melihat para santri datang bersarung, meminggul tas, dan diantar orang tua, saya seolah bernostalgia dengan masa lalu. Sekitar sebelas tahun yang lalu, saya masih merasakan dag dig dug ketika kembali ke pesantren. Bagi anak-anak, rumah adalah surga. Sedangkan pesantren adalah medan belajar. Karenanya, saya lebih suka tinggal di rumah dibanding di pesantren yang penuh dengan keterbatasan.
Dulu, dulu sekali, ketika saya balik dari rumah ke pesantren, pikiran saya sudah cemas ketika melihat gerbang pesantren dari kejauhan. Mungkin, perasaan itu juga dirasakan anak-anak yang kembali ke pesantren pasca liburan yang panjang.
Pesantren memang pendidikan yang unik. Di tempat ini, orang tua tidak hanya perlu sedikit uang, tapi juga keikhlasan untuk berjauhan dengan sang anak. Sedangkan bagi anak, harus rela massa-massa bermainnya terenggut. Tidak hanya finansial yang dikorbankan demi menjadi santri, tapi juga energi dan perasaan yang emosional.
Lalu, apa pentingnya mondok? menurut saya sangat penting. Jika dalam kehidupan seseorang harus melalui masa penggemblengan di kawah chandradimuka, maka pesantren-lah tempat paling pas.  Di pesantren, kau tahu, aneka macam jenis kehidupan ada. Mulai dari santri yang bungah karena kantongnya tebal, sampai santri yang terpaksa mengganjal perutnya dengan batu karena kelaparan. Idealnya, kehidupan di pesantren memang harus diperbanyak dengan rasa lapar. 
Satu pesan kakek yang begitu saya ingat adalah, menurut beliau pesantren bukanlah tempat bermewah-mewah. Pesantren adalah tempat menggodok mental dan menggembleng seseorag dengan aneka macam kesusahan. Lalu untuk apa? seorang kiai sepuh yang ungkapannya pernah saya baca, kira-kira berujar seperti ini: hidup enak itu tidak perlu di latih, hidup susah yang perlu di latih.
Karena hidup adalah perjalanan panjang, kita tidak pernah tahu takdir kita seperti apa. Apakah menjadi orang berkecukupan atau tidak. Takdir oleh sebagian orang memang bisa diubah, salah satunya mungkin dengan kerja keras. Tapi, meski sekalipun bisa diubah, menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk menurut saya sangat diperlukan. Dan pesantren adalah tempat yang tepat untuk mempersiapkan kehidupan yang keras ini.
Alasan lain, pesantren mempunyai akar kesejarahan yang kuat. Pesantren di Indonesia yang mayoritas satu pandangan dengan Nahdlatul Ulama’ (NU) adalah lembaga yang ikut berjuang dalam kemerdekaan. Karena akar yang kuat inilah, pesantren sulit disusupi paham-paham baru seperti radikalisme dan konservatisme.
Beberapa hari lalu, saya berdiskusi dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU) Robikin Emhas. Dia menjelaskan kenapa PBNU sangat keras sekali menolak full day school. Alasannya, karena di sekolah umum saat ini sudah banyak paham-paham  tidak waras. Semisal, Islam Radikal.
Robikin memang tidak menyebutkan angka pasti. Tapi, berdasarkan data yang saya baca dan saya cantumkan di tulisan sebelumnya, memang mencemaskan. Data penelitian UIN Jakarta misalnya, 80 persen guru agama di lima provinsi menolak memilih pemimpin nonmuslim. Mereka juga menolak pendirian rumah ibadah agama lain di lingkungan mereka.  
Penelitian Kementrian Pendidikan dan Agama (Kemenag) dan Wahid Institute lebih mencengangkan. Dari 1600 pengurus Kerohanian Islam di sekolah menengah, 70 persen mereka setuju pada sistem khilafah. Sepertiganya mereka beranggapan kalau berjihad berarti melakukan kekerasan.
Karena aneka macam data itulah, menurut Robikin, sekolah umum akan semakin mengkhawatirkan jika jam pelajarannya ditambah. Dengan jam belajar bertambah, otomatis mereka akan lebih banyak berada di sekolah, dengan semakin banyak berada di sekolah, maka akan semakin rentan dimasuki ideologi radikal. Kira-kira seperti itulah cara berpikir Robikin.
Lalu, pesantren mempunyai tanggungjawab besar agar generasi muda benar-benar menjadi pribadi yang moderat. Pesantren cenderung steril dari gerakan radikal karena mereka belajar Agama dari Ulama’ Langsung yang sanad (jalur keilmuannya) sambung menyambung hingga Nabi Muhammad SAW.
Mereka belajar dari kitab klasik yang itu merupakan tafsir dari Alquran dan Alhadis. Dengan demikian, sangat sedikit sekali kemungkinan pesantren terjebak pada salah tafsir. Sedangkan di luar sana, mungkin guru agama yang berwatak radikal itu, belajar agama dari internet dan orang-orang yang keilmuannya diragukan.
Salah satu contoh paling nyata mungkin Jonru. Kita tidak pernah tahu dia mondok di pesantren mana, lalu kita mengenalnya sebagai penghasut orang agar keluar dari Masjid Istiqlal. Alasannya, karena di masjid ini yang menjadi Imam adalah Prof Dr H Quraish Shihab. Jonru menuding Quraish Shihab melakukan kesalahan besar karena pernah menyebut kalau Nabi tidak pasti masuk surga.
Tentu saja, Jonru dengan Quraish Shihab bukanlah perbandingan yang sepadan. Quraish seorang ulama’ besar yang hampir mendedikasikan seluruh hidupnya pada Ilmu Alquran. Quraish belajar ilmu tafsir melalui kitab-kitab ulama’ klasik. Beliau juga mengarang tafsir Al Misbah yang tersohor itu.
Sedangkan Jonru, kita mengetahuinya sebagai fasilitator pelatihan menulis, meski saya meragukan kecakapannya dalam menulis. Dia lulusan Akutansi, Universitas Diponegoro, Semarang. Tentu, jika melihat latarbelakangnya, Jonru mungkin tidak pernah menjadi santri. Sama sekali tidak salah Jonru tidak pernah mondok. Tapi kesalahannya jika dia menghasut orang pindah masjid, karena dia tidak suka sama seseorang yang khutbah di masjid itu.
Kau tahu, ajakan itu sama seperti ajakan orang pindah desa karena dia tidak suka dengan kepala desanya. Atau sama dengan orang yang meminta orang memboikot Facebook karena pendiri media sosial ini adalah seorang yahudi. Tentu, aneka macam ajakan itu adalah ajakan yang sakit. Kita tak perlu mengikuti mereka, yang perlu kita lakukan adalah menertawakan ajakan itu.
Melihat Jonru, dan orang-orang yang merasa paling benar sendiri dalam beragama, saya semakin mengamini apa kata teman saya. Kalau pendidikan pesantren memang penting di negeri yang semakin sakit ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy