Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan



Hidup adalah permainan. Kira-kira seperti itulah para artis mempermainkan pasar kuliner di Kota Malang. Para artis ibu kota, seolah berbondong-bondong-untuk tidak menyebutnya boyongan- berbisnis kuliner di Kota Malang.
Mula-mula ada artis berjenggot Teuku Wisnu dan istrinya, Shireen Sungkar yang membuka Malang Strudel, tiga tahun lalu. Ya, kue oleh-oleh ini sebenarnya bukan kue asli malang, melainkan kue Eropa. Tapi, agar ada kesan malangnya, ditambahi kata-kata Malang. Lalu, sah-sah sajalah duo artis ini membuat tagline seperti ini: belum ke malang, kalau belum ke Malang Strudel.
Jadi, kalau Anda semua main-main ke Batu, menginap di Kota Malang, lalu menikmati pantai di Kabupaten Malang, tapi belum beli Malang Strudel, maka sahlah Anda disebut belum ke Malang. Mungkin, klaim marketing Malang Strudel yang kini sudah punya enam gerai itu menarik, tapi bagi penduduk kampung tempe sanan, Kota Malang, klaim itu terlihat kekanak-kanakan. Kenapa begitu? ya sebagai penduduk kampung tempe, sah-sah saja dong saya bilang begitu. Teuku Wisnu saja boleh bikin tagline seperti itu, masak saya tidak boleh… hehehe…
Setelah Teuku-Shiren, munculah artis dan koki cantik Farah Queen yang membuka kue oleh-oleh bernama Queen Apple.  Meski promosinya tidak segencar Malang Strudel, tapi Queen Apple terus berkembang dan kini memiliki tiga cabang. Masing-masing ada di Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Tidak ada nama Malang di merk-nya, tapi kata Apple di merk ini memberi unsur kedekatan dengan Malang yang merupakan daerah penghasil apel. Ingat ya, apel yang bulat bukan apel kroak milik Stave Jobs.
Lalu, ada juga artis dan presenter Magdalena. Tapi, saya tidak akan membahas panjang lebar. Selain (maaf) tingkat keartisannya masih kalah dengan Shireen dan Farah Queen, Magdalena bukan bisnis oleh-oleh tapi restoran. Tidak ada kaitannya dengan kampung tempe sanan, jadi saya sih happy-happy aja.
Dan yang membuat hati mak tratap adalah munculnya dua toko kue yang bersamaan, dan juga berdekatan. Eh, hati artisnya juga pernah berdekatan lho… hemm apasih. Ya, artis Anang Hermansyah membuka toko oleh-oleh bernama A6 (dibaca Asix). Anang seolah tidak mau kalah dengan Teuku Wisnu.
Dia tidak hanya memboyong istrinya saat launching, tapi semua anak-anaknya. Kau tahu, A6 merupakan singkatan dari Anang, istrinya Ashanty, dan empat anak-anaknya yang nama depannya berawalan huruf A semua yakni Aurel, Azriel Arsy dan Arsya. Saya kira, mereka tidak niat buka bisnis, tapi niat boyongan beneran. Tapi, tak apalah, lagian Ashanty sudah menganggap Kota Malang sebagai rumah keduanya. Keren-kan pernyataan perempuan yang belakangan digadang-gadang menjadi calon wali kota malang ini. Tentu, jika dia mencalonkan diri, akan menjadi satu-satunya calon wali kota yang punya toko oleh-oleh. Itu dengan catatan saya atau teuku wisnu tidak mencalonkan diri. Walaupun, toko oleh-oleh saya hanya toko online. Coba klik instagram serbaserbijuragan, ya itulah tokoh oleh-oleh istri saya. Maaf saya tidak berniat promosi lho ya tapi niat melengkapi tulisan agar sedikit panjang… hehe…  
Selanjutnya, yang membuat hati saya dag dig dug adalah kejadian medio September lalu. Artis kenamaan Krisdayanti membuka toko oleh-oleh bernama Makobu atau Malang Kota Bunga. Yang bikin hati oleng adalah toko ini berada di Jalan Kawi, Kota Malang. Yang jelas jaraknya tidak jauh dari toko Anang di Jalan Guntur. Dua jalan itu berada di satu blok yakni jalan bernama gunung-gunung di Kota Malang. Ya kira-kira jaraknya tidak lebih dari satu kilometer. Atau dalam bahasa jurnalistik yang sering dipakai adalah jaraknya hanya sepelemparan kue malang strudel. Eh maaf, maksut saya jaraknya hanya sepelemparan batu.
Tahu sendirikan Anang dan Krisdayanti dulu punya hubungan apa. Melihat toko keduanya launching yang beda bulan saja, dan jaraknya berdekatan, saya kira hanya ada dua kemungkinan. Keduanya niat bersaingan, atau mungkin niat bereuni.  Mungkin, hanya Tuhan, Anang dan Krisdayanti yang tahu.
Tentu saja, secara teori ekonomi, keberadaan kue para artis ini berpengaruh kepada keripik tempe yang merupakan oleh-oleh asli Kota Malang.Selama ini, selain di kenal apelnya, kota malang begitu identik dengan keripik tempe. Bahkan, ada kampung tempe di kota malang. Tempat ini lebih populer dengan sebutan kampung tempe sanan. Dari sekitar 300 kepala keluarga, sekitar 90 persen penduduknya menggantungkan hidup dari tempe. Maksut saya aktivitasnya ada kaitannya dengan tempe. Mulai dari mengolah kedelai menjadi tempe, menjual tempe ke pasar-pasar tradisional, orang yang bekerja sebagai kuli potong tempe, menggoreng tempe jadi keripik, hingga membungkus keripik di plastik yang kemudian di jual menjadi oleh-oleh.
Para pengrajin tempe itu seolah bekerja ditengah senyap dan hening. Saya yang selama tiga tahun belakangan menjadi penduduk tempat ini, bisa dibilang kampung ini tidak pernah tidur. Para pengrajin tempe itu bekerja sejak sebelum subuh, hingga kampung benar-benar sepi larut malam. Mereka bekerja, jauh dari sorot kamera.
Para pelaku usaha kecil menengah itu, seolah cuek saja dengan menjamurnya kue artis di Malang. Bahkan, istri saya enteng-enteng saja menjawab ketika ditanya pengaruh kue-kue artis tersebut.”Kayaknya tidak ada pengaruhnya, biasa-biasa aja tuh,” katanya sambil selonjoran kaki.
Bahkan, istri saya antusias banget ketika Anang-Ashanty, beserta empat anaknya membuka toko oleh-oleh. Dia membeli dan mengatakan kalau kuenya enak. Tapi, tetap saja kata dia masih enak keripik tempe original. Tidak percaya? buktikan saja sendiri.
Sikap biasa-biasa saja penduduk kampung tempe ini, menunjukan kematangan berbisnis penduduk tempat ini. Mereka tidak demo, seperti sopir angkot yang menolak taksi online. Mereka biasa-biasa saja, menganggap artis sebagai pesaing bisnis sebagaimana orang pada umumnya. Lagian, artis juga cari uang dari kue yang mereka jual.
Selain itu, penduduk kampung tempe sanan juga menunjukan kematangan spritualnya. Ya, daerah ini memang daerah santri. Sebagaimana santri, mereka tidak pernah risau terhadap masa depannya. Santri selalu nekat saja menikah, meski tidak punya pekerjaan. Dan yuhu, ternyata di Alquran dijelaskan lho, bahwa orang yang senantiasa berbuat kebajikan tidak akan ada keraguan dan kesedihan bagi mereka.  
Dengan terus bekerja, sebagaimana kata Pram di Bumi Manusia, sejatinya para warga kampung tempe sanan ini telah melakukan perlawanan. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
 

Komentar

sahid mengatakan…
asyiiik bacanya,

lanjutken warga Sanan,
syukur-syukur makin berinovasi juga,

meski saya kalau beli kripik tempe,
gak lagi kesanan (kejauhan) tapi ke tetangga sendiir..
iBRAMZ mengatakan…
Yep...biarkanlah artis2 buka toko kue...
Toh konsumen oleh2 kripik tempe juga masih laris...jauh lenih murah,,lebih nikmat buat cemilan...dan yg pasti,duit 50 ribu udah bisa icip berbagai rasa haha
Imuh Aryadi mengatakan…
Besok kalau ke malang boleh dong pesen keripik tempenya serba serbi, soalnya tiap tahun pasti ke malang,
sugianto syam mengatakan…
Jangan pernah malu utk makan tempe. Tempe bisa dijadikan juga sebagai tag line kota Malang
Alief Gilbert mengatakan…
Keren..sasaji arema Ijin Share om
Henri Sinurat mengatakan…
asik pisan ini, renyahhh. Tetap semangat kawan kawan
Anonim mengatakan…
ini tulisannya maksudnya mau menjelaskan kalau di Malang sekarang banyak menjual oleh-oleh Artis ya?
Mantap djiwa, tulisannya bagus buat menggambarkan mentalitas warga Malang yang kuat menghadapi persaingan pasar oleh-oleh di kotanya sendiri

Namun, menurut saya sikap tidak peduli itu kurang tepat karena ke depannya masih akan ada banyak perubahan-perubahan lainnya yang bisa mengancam eksistensi oleh-oleh KHAS malang yang asli ini. Jadi, kalo bisa, benar-benar diperlukan adanya inovasi baru terhadap penyajian oleh-oleh tempe ini, entah peneglolaan menjadi produk jadi yang berbeda atau pengemasannya yang berbeda. Tuntutan perubahan lingkungan pasar ini memang tidak terelakkan, makanya diperlukan kesadaran dari para 'aremania' ini untuk lebih proaktif mempertahankan keunikan Kota Malang kita.
Fiqih Praditya mengatakan…
Manusia berusaha/berikhtiar itu wajarnya tak perlu risau dan tak perlu ragu. Karena intinya usaha tak akan berkhianat, dalam islam pun rezeki manusia tak akan tertukar atau bahasa populernya Allah selalu adil. Sedangkan dalam bahasa pemasaran, tiap produk/jasa akan memiliki segmen pasar sendiri-sendiri. Sehingga tak perlu rosau atau ragu, keep thinking forward, ciptakan produk2 yg kreatif inovatif. Pola pikir konsumen yg dinamis bisa saja menjadi sebab berubahnya preferensi masyarakat thd apa yg akan mereka beli. Oleh karena itu para pelaku usaha jg wajib utk mengenali lingkungan eksternalnya, memahami kekuatan kelemahan peluang dan ancaman dengan harapan bisnis atau usahanya dapat terus berjalan/maju seiring cepat berubahnya lingkungan eksternal. Sehingga bagi pelaku usaha/bisnis yg telah berjalan cukup lama, anggaplah kompetitor baru ini adalah motivator untuk terus menciptakan produk yg berkualitas, kreatif dan inovatif.
Ivonie Zahra mengatakan…
Meskipun bnyk toko kue artis, saya kalau memberi oleh-oleh tetap kripik tempe dan buah krn lbh efisien dn gak mudah basi 😊
sis pambunan mengatakan…
Disanan sendiri saya melihat perlawanan jg "Kurang seimbang" toko yg rame cuman lancar jaya, mudah2 an penglihatan saya salah. Dan kalau ada penggede yg lihat, mbok dibikinkan lahan parkir yg luas, umpama di rampal, trus ke sanan naik becak, tolong diaturkan konsep bagaimana baiknya.
rima wode kurnia mengatakan…
keren nih tulisannya...yang pasti Mgk bagi sebagian org yang namanya oleh2 pasti makanan tradisional yang khas..sedang yg dijual oleh para artis adalah kue2 modern yg ditambahi dg kata "malang' jd dak perlu takut bersaing ...sukses ya..ntr klu kemalangan sy akan cari oleh2 khas kampung sanan




lucia priandarini mengatakan…
Mas! Tak kiro kate protes. Ternyata sikap pedagang kripik lebih hebat dari protes yaa. Gak level saingan sama artis. Kripik tempe akan terus jaya ��
Lagipula yang dijual para artis tersebut kalo menurut saya nggak ada Malang-malangnya juga sih hahaha
Rara Muhammad mengatakan…
Keren tulisannya, mengalir dan up to date. Salam kenal 😃
Rahayu Asda mengatakan…
keren tulisannya..
itu yang nama kapitalis, yang bisa maju dan punya untung besar hanya orang-orang yang bermodal besar.

namun, sebaiknya pelaku usaha tempe juga harus melakukan perlawana di media sosial, promossi gencar di instagram, twitter dll. sebenarnya ini kewajiban pemerintah setempat untuk mempromosikan produk lokal lebih gencar lagi
Sewa Mobil Malang mengatakan…
Salut buat Tempe sanan, saya sebagai wirausaha di bidang seqa mobil dan pariwista di Malang Batu sangat bangga dengan Tempe sanan dan tidak pernah lupa kami mempromosikan tempe malang peda tamu dan pelanggan2 kami ...
Mantap
mardiyanto mengatakan…
Biarlah mereka berkembang, sekarang rati2 itu lagi booming..nggak papa suatu saat pasti jenuh..tinggal soal waktu..sedangkan tempe kripik Malang insyaAllah tidak pernah jenuh sampai kapanpun.

Postingan populer dari blog ini

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy